SUATU sore dua orang murid di sebuah lembaga pendidikan agama di suatu desa terlibat perkelahian. 

Selayaknya perilaku anak-anak pada umumnya, bertengkar, berkelahi dan saling menghujat adalah kebiasaan yang susah dihindari.

Keduanya adu jotos hingga guru mereka datang untuk merelai pertengkaran tersebut. Menasihati hingga memarahi perilaku muridnya tersebut.

Ilustrasi : Seorang siswa tampak serius belajar. (Sumber: Pixabay)


Setelah ditanya, kedua murid tersebut bungkam tentang siapa yang bersalah dan memulai pertengkaran itu.

Maka guru itu bertanya kepada saksi yang terdiri dari teman mereka untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.

Sebab, saat kejadian pertengkaran terjadi mereka ikut menyaksikan pertengkaran dua murid tersebut. 

Lalu, murid yang dianggap paling bersalah dan mengakuinya kesalahannya itu kemudian mendapat tambahan hukuman berupa 'teguran dan dipukul untuk efek jera'.

Keduanya duduk berdekatan dan terlihat akur kembali. Tetapi saat proses belajar, riak-riak pertengkaran kembali terjadi. 

Melihat perilaku anak-anak yang kerapkali bertengkar dan lebih suka bikin onar daripada serius untuk belajar tersebut. Sang guru mengelus dada.

Melihat itu sang guru kembali mengingatkan dan menasihati agar murid-muridnya kembali fokus belajar.

Melihat hal itu aku sendiri teringat pada saat mengajar anak-anak di dalam kelas.

Melihat seorang guru menasihati dan sesekali memarahi saat murid mereka melakukan tindakan amoral dan kurang terpuji. Sepertinya adalah pemandangan biasa di sekolah baik formal dan non formal.

Tidak jarang, meskipun tidak semuanya. Seorang guru memukul murid - murid mereka yang perilakunya sudah diluar kontrol dan tidak terkendali.

Untuk apa?

Guru yang baik akan selalu mempertimbangkan, model apa saja yang layak diberikan kepada anak-anak. Biar mereka tumbuh berkembang menjadi murid dengan perilaku dan karakter yang baik.

Guru yang baik akan menyampaikan bila si murid melakukan sebuah kesalahan, lalu menegurnya dan memberikan wejangan agar kesalahan serupa tidak diulangi kembali. 

Tetapi, jika cara-cara tersebut tidak juga mempan. Maka, cara ekstrem yang sebenarnya bertujuan mulia layak dilakukan. Tentunya dengan cara yang tidak berlebihan. Misalnya, memukul.

Semestinya, seorang guru memang harus  memiliki sikap yang tidak bisa ditawar. Tidak ada kompromi, tegas, dan penuh tanggung jawab.

Kisah tentang seorang guru memukul sang murid juga terjadi di era kekuasaan khalifah Turki Utsmani (baca, Ottoman).

Kisahnya bermula saat Syeikh Ahmad bin Ismail Al Qurani diberi tanggung jawab mendidik putra Sultan Murad II yang bernama Mehmed II.

Sebagai putra Sultan Turki Ustmani dengan kekuasaan yang begitu luas. Sosok Mehmed II yang saat itu masih bocah dipastikan bandel, nakal dan manja.

Sultan Murad II mengingatkan anaknya tersebut agar patuh kepada sang guru.

Bahkan, Sultan Murad II memberi wewenang khusus agar si guru memukul anaknya jika tidak disiplin sambil memberi cemeti  yang disaksikan langsung oleh Mehmed II.

Benar, ketika Mehmed II menampakkan kenakalannya dan tidak serius saat belajar, maka sang guru memukul dan mencambuknya sehingga anak Sultan itu terkejut dan kaget.

Tapi, Mehmed II tidak bisa berbuat banyak. Sebab, sang guru sudah mendapat legitimasi penuh dari orang tuanya jika dirinya tidak bisa disiplin.

Tidak ada cara lain bagi Sultan Muda itu kecuali mengikuti perintah guru dan giat belajar agar tidak terkena pukulan berikutnya.

Dengan didikan yang penuh disiplin itu, akhirnya Mehmed II menjadi murid yang menguasai banyak ilmu pengetahuan.

Singkatnya, di kemudian hari Mehmed II tumbuh sebagai pribadi ulet, berwawasan luas serta sukses menjadi panglima perang tertinggi saat penaklukkan Ibu Kota Romawi Timur, Konstantinopel.

Belajar dari kisah di atas, nampaknya saat mendidik dengan memberi pukulan pada anak yang suka melanggar dan berperilaku seenaknya sendiri.

Memukul anak saat kurang disiplin dan seringkali melanggar peraturan sebenarnya bentuk keadilan yang harus ditegakkan.

Kembali kepada kisah Sultan Murad II di atas. Kegiatan belajar mengajar adalah kegiatan yang juga melibatkan persetujuan orang tua di rumah.

Sungguh, na'as nasib guru jika hendak mendisiplinkan seorang murid dengan cara memukulnya, lalu sang guru dipidana karena melakukan tindakan kriminal, so what?

Inilah pentingnya mendidik itu sebenarnya adalah bentuk saling percaya yang kudu dibangun antara orang tua dan guru.

Tentu saja memukul murid ada aturan mainnya. Guru tidak sertamerta dikit - dikit memukul murid. Memukul hanya cara lain setelah cara-cara lain buntu dan perilaku murid semakin tidak terkendali.

Benar, kan?

FENDI, Content Writer