Ilustrasi Menara Masjid (Pixabay)


Apa yang bisa kita rasakan saat menghadiri perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW?

SAAT menghadiri perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW, kita mendapat suguhan dengan beragam hidangan perjamuan hingga mendengarkan pujian kepada sang Nabi dalam syair - syair Al Barzanji.

Dalam Maulid Nabi, kita umumnya menyenandungkan pujian baik syair yang ditulis Al Barzanji maupun Addiba'i.

Belakangan hadir kitab-kitab pujian kepada sang Nabi Mulia yang juga dibaca saat Perayaan Maudur Rasul, seperti  Qasidah Burdah, Simtudduror, Addiyaul Lami'.

Semua kitab itu di atas menceritakan sejarah hidup Nabi SAW yang mulia. 

Kisah perjalanan Nabi sejak lahir, mengemban tugas sebagai Nabi  yang membawa pesan Tuhan untuk umat manusia melalui agama Islam.

Nah, tidak jarang syair-syair itu dibacakan oleh tokoh agama atau para kiai lokal setempat yang beberapa diiringi musik seperti rebana, jidur, gitar, dan lain-lainnya. 

Suatu malam saat menghadiri undangan Peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw, saya tertegun saat mendengarkan seorang kiai sepuh yang ditunjuk untuk pembacaan Al Barzanji.

Suaranya enak didengar. Sayangnya, saya tidak paham sepenuhnya apa makna yang dari syair-syair yang dibacakan.

Penasaran, saya pun mencari tahu tentang siapa Al Barzanji itu? 

Sebuah sumber menyebutkan bahwa Kitab Al Barzanji secara khusus ditulis Syekh Ja'far untuk ekspresi rasa cintanya kepada Nabi Muhammad SAW.

Tujuannya, supaya umat Islam di seluruh dunia bisa mengambil pelajaran tentang keagungan pribadi Nabi Muhammad SAW.

Kisahnya, Sultan Salahuddin Al Ayyubi, Panglima Perang Kaum Muslimin pada perang Salib memberi intruksi kepada para ulama.

Para ulama diminta menulis syair syair sholawat untuk mengenang Nabi SAW dan instruksi itu disebarkan keseluruh negeri Arab.

Salahuddin memahami perlunya seorang figur yang bisa jadi pemersatu umat Islam, yaitu Rasulullah SAW.

Selama perang Salib berkecamuk, Salahuddin meyakini akan perlunya imajinasi tentang sosok yang bisa jadi pemersatu semua kaum Muslimin di seluruh dunia.

Kitab Al Barzanji hadir untuk menjawab harapan Sultan Salahuddin untuk menggambarkan figur pemersatu umat Muslim.

Dalam hal ini, Syair Al Barzanji dinilai mewakili sebab menempatkan sosok nabi sebagai tokoh sentral dan panutan utama seluruh kaum Muslimin di dunia.

Nama lengkap Al Barzanji adalah Sayyid Ja’far bin Husain bin Muhammad al-Barzanji. 

Adapun penanamaan Al Barzanji dinisbatkan kepada kota Barzanzah yang terletak di kawasan Kurdistan (sekarang Irak).

Dari sini, Salahudin Al Ayyubi membentuk panitia khusus untuk menggelar Festival Maulid Nabi Muhammad SAW selama beberapa minggu.

Tujuannya untuk memompa semangat Umat Islam berani berjihad menjaga hak kaum muslimin dan mempertahankan daerah Islam dari para tentara Salib, sekaligus merekatkan hubungan sesama Umat Islam yang terpecah belah.

Jika kita hidup di masa itu, Insya Allah hati kita akan ikut bergetar meyaksikan Festival Maulid untuk memuliakan Nabi Muhammad Saw dan meneladani spirit perjuangannya.

Kini kita hanya mendengar cerita heroik sultan Shalahuddin dan sesekali duduk melingkar membacakan syair Al Barzanji di acara Maulid Nabi Saw.

Allahumma Sholli ala Muhammad ...