SUATU hari seorang ibu rumah tangga bertengkar dengan suaminya yang hidup di desa. Pasalnya, sang suami tidak senang saat istrinya mengambil beras yang kabarnya berasal dari bantuan pemerintah.

"Kalau seseorang mau membantu kita. Bukan kita yang menghampiri tapi kita yang mesti didatangi dan dihampiri," Kata si suami itu.

Sang suami mengaku malu kalau istrinya harus mendatangi tempat-tempat tertentu berdalih akan diberi bantuan.

Sang suami bukan anti dengan bantuan. Hanya saja, bantuan yang diberikan dengan cara yang kurang baik. Hanya bikin dadanya sesak. Sudah miskin kadang ditunjukkan dengan menagih bantuan pemerintah.


Ilustrasi bantuan untuk orang kurang mampu. (Sumber: Pixabay)

Sebuah bantuan memang diperlukan. Setiap orang yang berasal dari keluarga kurang mampu dan secara finansial tidak mencukupi untuk hidup layak.

Bantuan dari konglomerat yang diberikan kepada kaum miskin bak dewa penolong. Meringankan kesulitan hidup dan membuat beban hidup terasa ringan.

Seharusnya, kata sang Suami. Kalau ada pejabat atau konglomerat ingin membantu. Mereka sendiri yang harus mendatangi kita. Bukan kita yang seolah seperti pengemis yang samar-samar diberi bantuan.

Pertengkaran kedua pasangan itu tampak mereda setelah sang istri menerima nasihat dan saran sang suami.

Sang suami memberi contoh tentang Khalifah Umar bin Khattab Radiyallahu Anhu.

Saat itu Amirul Mukminin Umar bin Khattab  mendapat laporan dan menyaksikan langsung tentang salah satu rakyatnya yang miskin dan kurang mampu. 

Umar langsung pergi ke Baitul Mal (sebuah rumah yang berfungsi penyimpanan harta kaum Muslim).

Di dalam Baitul Mal, Umar alu mengambil gandum dan membawanya sendiri di pundaknya.

Sang ajudan Khalifah menghalangi dan bermaksud dirinya yang seharusnya membawanya. Bukan Umar yang saat itu pemimpin tertinggi umat Islam.

Umar pun tegas mengatakan bahwa sebenarnya dia bertanggung jawab pada nasib rakyatnya.

Umar mendatangi serta mengetuk pintu rumah orang Miskin tersebut. Lalu memberikan langsung tersebut.

Umar tidak memanggil orang miskin tersebut untuk mendatangi rumahnya. Apalagi, tujuannya hanya untuk pamer bahwa Umar telah berbagi kepada orang miskin. 

Kini belasan Abad telah berlalu setelah era pemerintahan Khulafaur Rasyidin yang humanis tersebut.

Saat ini situasinya berbeda, kita tidak lagi menyaksikan pemimpin menyambangi rakyat. Justru rakyat yang harus mengurus jika ingin mendapat bantuan.

Jelas, meski tidak semuanya tetapi cukup sulit untuk menemukan pemimpin yang berani mendatangi kediaman para rakyat.

Tapi rakyat sendiri yang mesti mendatangi sumber bantuan. Apalagi, regulasi bantuan mulai bervariasi dan syarat-syarat yang berlaku.

Pada titik ini, saya dibuat kagum pada sosok Umar bin Khattab.

Umar sukses menjadi negarawan tapi tidak gengsi untuk mendatangi rumah rakyatnya yang tergolong orang miskin kemudian memberinya bantuan sepantasnya.

FENDI, Content Writer