Ilustrasi penampakan cahaya lampu (sumber: unplash)

Suatu
malam seorang kawan dekat sekaligus tetangga mengajak saya untuk menghadiri acara Maulid Nabi Muhammad SAW.

Rencana awal kami menghadiri Maulid Nabi SAW di desa Tanah Merah, di Saronggi.

Namun, saat berangkat menuju lokasi, justru kawan saya ini mendapat kabar lain jika di Desa Masaran juga ada Acara Peringatan Maulid Nabi. 

Mengingat jaraknya lebih dekat, akhirnya kami memilih hadir ke Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Malam itu, saya tidak tahu bahwa kami akan menghadiri majelis Maulid yang penceramahnya seorang Habaib (keturunan Nabi Muhammad SAW).

Saya mengira jika pengajian ini di desain seperti biasanya pengajian di desa-desa.

Tetapi setelah kawan saya itu memarkir sepeda motornya. Saya agak terkejut.

Ini beneran Maulid Nabi, tanya saya dalam hati.

Di deretan parkiran sepeda motor, saya menyaksikan lampu lampu dipajang berjejer . Jumlahnya cukup banyak. 

Berdiri dibawahnya, seolah kita menyaksikan gemerlang bintang-bintang bertaburan di atas kepala.

Ribuan jamaah sudah duduk bersila. Rerata dari kalangan kaum muslimat. 

Dan beberapa pria memakai rompi bertuliskan Majelis Riyadlul Jannah Madura.

Saya senang saja saat memasuki lapangan dan panggung berdiri megah di depan saya.

Beberapa orang duduk bersila di atas panggung membaca doa Ratibul Haddad, lengkap dan fasih.

Saya masih menduga-duga, kira-kira siapa Penceramah yang diundang di acara ini. 

Dari pembacaan Ratibul Haddad itu, diteruskan dengan pembacaan sholawat Al Barzanji diiringi musik rebana yang sudah kekinian.

Setelah itu, seorang pria muda bersurban dengan jenggot dan kumis tipis nampak di wajahnya yang bersih disambut banyak orang.

Mungkin itu penceramahnya, tebak saya dalam hati.

Jujur saya kurang banyak paham soal nama-nama penceramah yang kerapkali diundang masyarakat.

Jika pun harus menyebut nama, maka yang saya ingat hanya Kiai Musleh Adnan. 

Kiai asal Pamekasan ini memang lagi viral di kalangan masyarakat, khususnya di kalangan warga Madura. 

Kiai Musleh juga seringkali tampil di mana-mana dengan ceramah asyik dan kadang dibumbui humor segar.

Benar dugaan saya. Pria yang baru saja datang itu lalu didampingi untuk menaiki panggung. 

Setelah pria itu duduk di atas. Acara diteruskan lagi dengan pembacaan Sholawat Al Barzanji dan dilanjut Mahallul Qiyam.

Semua orang berdiri dan suara Hadrah Al Banjari bersahutan dengan irama yang enak didengarkan.

Benar, ternyata yang datang tadi adalah penceramahnya.n

Panitia lalu menyebut nama yang akan berceramah, yaitu Habib Abdul Qodir bin Zaid Ba’abud.

Sekali lagi, saya tidak update tentang nama-nama para Da'i. Itulah sebabnya, kenapa saya juga belum mengetahui banyak soal itu.

Saat Habib Ba'abud mulai berceramah, saya Menyimak apa yang disampaikannya.

Saya mengira Habib Abdul Qodir Ba'abud berasal dari Madura.

Ternyata, Habib Abdul Qodir Ba'abud  berasal dari Probolinggo.

Beliau adalah pengasuh Pesantren Ribath At-Taqwa di Desa Seboro Dusun Krajan, Kecamatan Krejengan, Kraksan, Probolinggo. 

Ceramahnya disampaikan dalam bahasa Madura yang cukup fasih dan dibumbui humor. Tidak jarang para jamaah ikut terpingkal-pingkal saat menyimaknya. 

Bagaimana kesan saya?

Ketika mendengar ceramah Habib Abdul Qodir Ba'abud tersebut, saya mencatat adalah beberapa poin berkesan yang bisa saya catat.

Menariknya lagi, pesan dakwah yang disampaikan cukup asyik, berisi dan mudah diingat.

Habib juga bisa memadukan dengan bumbu bumbu humor dengan kisah kekinian yang relevan yang sesuai realitas permasalahan di sekitar kita.

FENDI, Content Writer