Suatu waktu saya mendapati seorang murid saat kami lagi asyik belajar bersama, tiba-tiba dia terlihat sedang memperagakan suatu gerakan yang tak wajar.

Dia menungging dan menggerakkan badannya ke atas dan ke bawah. Melihat hal itu saya mencoba berpikir positif mungkin sedang meniru adegan robot dan semacamnya. 

Lalu karena penasaran dengan apa yang sedang dia lakukan kemudian saya bertanya.

"Tama (bukan nama sebenarnya), kamu lagi ngapain?"  

Dia hanya tertawa dan berkata gelagapan ini eh.. ehmm nganu saya lihat di hp tadi.

Itu loh yang dilakukan laki-laki dan perempuan katanya sembari tanpa rasa bersalah dia mencontohkan adegan itu di depan kami.

Melihat hal itu sontak saya mengelus dada dan melafalkan istigfar ratusan kali. 

Anak ini tinggal bersama neneknya karena orangtuanya merantau jauh untuk mencari penghidupan. 

Ilustrasi: Anak Lihat Gadget (Sumber Pixabay)

Anak ini memang paling aktif dibanding dengan yang lain. Aktif mencari perhatian dan juga aktif membuat ruangan belajar jadi ramai.

Sebagai seorang pendidik beruntung saya memiliki istri yang  berkecimpung di bidang psikologi.

Awalnya, saya menduga perilaku anak ini adalah untuk mencuri perhatian karena sudah lama tidak bersama orang tua.

Tetapi melihat perilaku yang tidak biasa ini, saya merasa ada sesuatu yang layak diperhatikan. Kenapa dia bisa melakukan gerakan yang tidak 'wajar' itu.

Mirip beberapa murid kami yang lain yang kerapkali menyampaikan kata-kata kasar dan kurang pantas.

Setelah saya tanya ternyata karna nguping dari percakapan kakak-kakak tingkatnya atau meniru kata-kata jorok dari Internet.

Lagi-lagi, anak-anak yang bermasalah dengan cara berbahasa yang sedikit kurang beretika ini kami tegur.

Pagi itu karena risau saya mencoba mendatangi rumah kediamannya sembari ingin melihat apa yang terjadi sebenarnya.

Betul dugaan saya sang nenek tidak memiliki kemampuan untuk mengontrol apa yang dilakukan sang anak dengan Smartphone nya.

Smartphone untuk anak memang memiliki dua mata pisau yang apabila dipakai dengan tepat maka akan memberikan manfaat luar biasa kita bisa mempelajari apapun untuk pengembangan diri.

Akan tetapi bila tidak digunakan dengan baik maka akan menjerumuskan ke arah yang negatif. 

Konten pornografi kian banyak dan mudah diakses oleh siapapun termasuk anak diluar pengawasan orang tua. 

Konten pornografi menurut salah satu dokter neurosains dapat menstimulasi hormon dopamine secara berlebih yang apabila kelebihan itu terus terjadi maka hormone dopamine itu akan membuat lobus prefrontal  akan mengkerut.

Padahal lobus prefrontal ini tempat dimana seseorang melakukan pengambilan keputusan,moral,bahasa,pemecahan masalah dll. 

Seseorang yang sudah kecanduan menonton pornografi maka akan kehilangan kontrol pada perilaku yang bermoral karena fungsi dari lobus prefrontal yang mulai mengkerut bentuknya. 

Benar memang bahwa rusak dan cemerlangnya seorang anak bermula pada circle keluarga. 

Kontrol dan pengawasan keluarga sangat diperlukan dalam bijaksananya sesorang bermain gadget (smartphone).

Pada detik ini saya mulai khawatir jika murid-murid tidak terpantau baik di dalam keluarganya dan terus melakukan hal seperti ini. * * 


Fendi, Content Writer