"Sejak saat itu, aku selalu bercita-cita menjadi penulis dan sejak itu pula, aku sudah tidak bisa berhenti mengutak atik kata.” (hlm, 33).

Sebelum menjadi perempuan tajir dan kaya raya seperti saat ini, J.K Rowling pernah merasakan situasi hidup yang berat.

Untuk mengetahui seperti apa lika liku kehidupan penulis novel Harry Potter tersebut, baca review buku ini hingga tuntas.

J.K. Rowling adalah contoh nyata tentang seorang perempuan miskin yang kemudian menikmati debutnya sebagai penulis terkaya di dunia.


Ilustrasi: Pembaca Harry Potter (Unplash)


M. Arief Hakim mengisahkan tentang sisi-sisi kehidupan J.K Rowling dalam buku 134 halaman ini. 

Buku berjudul:  J.K. Rowling Penulis Terkaya Sepanjang Masa tersebut, memberi kita informasi terkait kegigihan, perjuangan dan mencari peluang menerbitkan buku.

Di buku ini dijabarkan, mulai kehidupan pribadi hingga proses kreatifnya menulis buku fantasi yang begitu fenomenal tersebut hingga menggemparkan dunia perbukuan.

Para pembaca buku ini bisa memetik berbagai sisi inspirasi terkait etos kerja dan semangat yang harus dimiliki untuk menjadi penulis sukses yang dikagumi serta dihargai komunitas penulis di dunia.

Buku ini dikemas dengan cara yang unik sekaligus memikat para pembaca agar betah untuk berlama-lama menyelesaikan dari satu halaman ke halaman berikutnya. 

Terlebih, buku ini juga dilengkapi berbagai ilustrasi, berupa foto-foto yang menampilkan wajah Rowling.

Terutama, ketika J.K Rowling sedang menandatangani buku di depan para penggemarnya maupun saat wajahnya menjadi sampul majalah terkenal dengan sebutan penulis best- seller.

Dari mana J.K Rowling mendapat inspirasi menulis Harry Potter?

Pada Bab 'Menulis sejak kecil' Rowling mengisahkan bahwa dia memiliki seorang teman yang rumahnya sangat berdekatan. 

Teman itu bernama Potter. Ternyata, Potter itu nama kakak beradik tetangga dekatnya saat Rowling masih kecil. 

Ternyata Joe adalah panggilan yang paling disukai Rowling saat kecil. 

Menurut pengakuannya, Joe sangat tidak suka saat nama dipanggil dengan sebutan Rowling. 

Sebab, nama itu kerapkali diplesetkan dan hanya menjadi bahan ejekan teman-teman sebayanya dengan sebutan Rowling Stone.

Tentu tidak banyak yang tahu, ternyata Joe sudah menulis buku sejak usia 6 tahun. Buku yang ditulisnya diberi judul Rabbit. 

Karir Joe saat lulus kuliah, dia pernah bekerja sebagai sekretaris. Sayangnya, seperti pengakuannya Joe menyebut dirinya sebagai sekretaris terburuk sedunia. 

Rowling ternyata lebih suka berkhayal serta menulis daripada menyimak dan membuat notulensi rapat. 

“Sejak saat itu, aku selalu bercita-cita menjadi penulis dan sejak itu pula, aku sudah tidak bisa berhenti mengutak atik kata.” (hlm. 33).


Joe kerapkali memanfaatkan waktunya saat makan siang di Pub atau Cafe untuk menulis. 

Saat itu, Joe menghabiskan berbulan-bulan waktu yang dimiliki untuk menjaring ide cerita untuk bukunya serta memikirkan nama dan karakter yang mesti ditulis.

Pertengahan tahun 1990, saat lagi dalam perjalanan kembali ke London naik kereta yang sarat penumpang. Ide tentang Harry Potter tiba-tiba muncul dibenaknya. (hlm. 48).

Rowling mengungkapkan bahwa ketika menunggu kereta yang terlambat selama empat jam, tiba-tiba ide tentang Harry Potter muncul dibenakknya seketika lengkap dengan detailnya.

“Seorang anak kecil berkacamata, berombat hitam acak-acakan dan tidak tahu bahwa itu adalah seorang penyihir,” ungkap Rowling girang.

Sayangnya, saat dia hendak menuliskan cerita itu dalam perjalanan pulang. Tiba-tiba pena yang digunakan tidak lagi berfungsi dengan baik. Sedangkan, dia sendiri dihantui rasa malu untuk meminjam kepada orang lain.

“Tapi ketika ia tiba di rumah dan memegang bolpoin, detail ide tentang Harry Potter satu per satu perlahan-lahan lenyap,” (hlm. 51).

Tidak ingin ide itu lenyap dan berlalu sia-sia, maka malam itu ide tentang Harry Potter yang pertama ditulis, yaitu Harry Potter and Philosopher’s Stone.

Menarik juga diketahui, saat menyelesaikan novel itu, dia harus berhadapan dengan kenyataan pahit ketika ibundanya meninggal.

Demi mengobati luka hati akibat ditinggalkan salah satu keluarganya, Joe memilih pergi ke Portugal dan bekerja sebagai guru bahasa Prancis. Di masa itu juga, dia sangat berharap karyanya segera selesai.

Saat di Portugal, Rowling bertemu Jorge Arantes, seorang wartawan televisi yang kemudian menjadi suaminya.

Namun, perjalanan perkawinan itu tidak berjalan sesuai harapan dan rencana awal, terutama sejak kelahiran anak pertamanya, Jessica. 

Mereka berdua memutuskan untuk bercerai dan kehidupan Rowling pun kian terhimpit ke dalam kemiskinan paling dasar. 

J.K Rowling harus menjadi orang tua tunggal dan menghidupi diri yang saat itu juga belum sempat melamar pekerjaan.

Pada titik ini, pergulatan batin Joe untuk menyelesaikan novelnya memuncak, apalagi kemiskinan terus membayangi dirinya.

Di masa itu, Joe mencari siasat agar menemukan waktu yang tepat untuk menulis, terlebih ketika anaknya sedang terlelap tidur. Joe lalu pergi ke cafe lalu memesan secangkir kopi espresso.

Joe pun seringkali duduk di cafe. Menulis dengan cara manual, menggunakan pulpen dan kertas serta menikmati seteguk kopi espresso.

Rowling sempat memikirkan menjadi pengajar. Namun, jika dia tidak menyelesaikan saat itu juga novelnya itu, maka dia tidak akan pernah bisa menerbitkan bukunya.

Ia menyadari jika mengajar seharian penuh, ditambah membuat bahan untuk mengajar dan memeriksa hasil ulangan dan mengurus Jessica, anaknya maka dia tidak akan memiliki waktu luang untuk menulis.

Joe pun menyingkirkan keinginannya untuk menjadi pengajar dan fokus menulis novelnya hingga selesai (hlm. 64).

Setelah dua tahun hidup dalam himpitan kemiskinan, pada tahun 1995 novel Harry Potter and Philosoper’s Stone kelar. Joe pun mencari agen dan penerbit untuk bukunya tersebut dari perpustakaan umum.

Sayangnya, beberapa agen yang dikirimi tersebut menolak dan mengembalikan naskah itu pada hari itu juga.

Banyak alasan novel itu ditolak mulai tidak masuk akal, terlalu berkhayal dan kurang membumi. (hlm. 72).

Rowling tidak putus asa. Ia terus mencari agen untuk bukunya hingga akhirnya, ia bertemu dengan Christoper Little, seorang agen penerbitan buku asal London.

Lalu, Christoper inilah yang memberikan kabar kepada Joe bahwa Bloomsbury Children’s Book mengajukan penawaran untuk membeli naskah itu.


Ajaib, sejak diluncurkan di London  pada 1997, buku ini disukai begitu banyak pembaca dan kemudian mendapatkan medali emas SmartiesBook Prize untuk kategori anak-anak usia 9-11 Anak.

Kabarnya, berkat menulis novel Harry Potter, saat ini kekayaan J.K. Rowling melebihi Ratu Elizabet II ... 


FENDI, content writer