Sebuah buku ditulis untuk merekam perjalanan. Bentangan jarak dari kampung halaman menuju kota Taipei untuk menuntut ilmu. Berhasil diurai dengan cukup menarik.

Seolah-olah sebagai pembaca. Saya ikut menyaksikan tentang tempat-tempat yang dikunjungi dan ditulisnya.

Adalah Nurwahyu Alamsyah, seorang pemuda asal Kamal, Bangkalan, Madura yang membukukan kisah hidupnya saat menempuh studi di luar negeri, tepatnya di Kota Taipei, Taiwan.



Pemandangan Aula Peringatan, Kota Taipei, Taiwan (Sumber: Pixabay)


Membaca kisah Nurwahyu dalam buku berjudul Catatan Alam di Taiwan ini, kita jadi belajar. 

Sebab, Wahyu sukses merekam aneka momen menarik dan menegangkan selama belajar di tanah rantau.

Diterbitkan BitRead pada 2019, tulisan di buku ini adalah adaptasi dari artikel yang pernah tayang di blog pribadi sang penulis.

Tetapi, Wahyu juga menyisipkan beberapa tulisan tambahan yang tidak kalah menarik, yang hanya ditulis khusus untuk buku ini.

Wahyu memulai cerita dengan gaya penuturan orang pertama, yaitu "aku". Sebagai pembaca, saya melihat bentangan pengalaman belajar di negeri orang.

Hanya 313 halaman, buku ini dibagi menjadi empat bab. Bab pertama, penulis menyuguhkan artikel berjudul, Hello, World !

Kisah Wahyu ke Taiwan dimulai saat dia menjalani perkuliahan di  Prodi Information Management di National Taiwan University of Science and Technology (NTUT), Taipei, Taiwan.

Unik, ketika Wahyu mengisahkan tentang nuansa pemberangkatan dengan aroma kultur masyarakat Madura. 

Wahyu tidak ragu-ragu menceritakan betapa ia menemukan hangatnya semangat kekeluargaan saat rombongan dua mobil Carry, yang berisi sanak keluarga ikut serta mengantarkan ke Bandara.

Bahkan, kisah ketika sedang pamit kepada orang tua tanpa meninggalkan tradisi, seperti melewati selangkang emak sebanyak tiga kali sebelum meninggalkan rumah juga diurai di buku ini. Cukup detail !

Selanjutnya, penggambaran kekompakan hingga isak tangis keluarga saat melepas kepergian sang anak mewarnai awal buku ini.

Kisah itu sesekali bisa memancing reaksi emosi pembaca tentang perasaan orang tua, jika ditinggal seorang anak meskipun untuk tujuan yang baik (belajar).

Gambaran suasana di Bandara dengan sangat detail juga disajikan. Tulisan berjudul Panik di Changi menunjukkan peristiwa saat adegan proses pemeriksaan pasport dan boarding pass (hlm. 22).

Kedatangan ke Taiwan juga dikemas dengan judul khusus Selamat Datang di Taiwan, cong!" 

Wahyu menceritakan saat pesawat mendarat di Bandara Internasional  Taoyuan, yang dulunya bernama Bandara Chiang  Kai-Shek. Termasuk, hal-hal menarik dan kadang menegangkan saat pemeriksaan imigrasi (hlm. 27).

Di artikel 'Konsep Less Mile Transportasi Taipei', Wahyu memberitahu jika di Taipei masyarakat tidak perlu dibuat bingung soal transportasi. 

Wahyu membuat kalimat tanya, "Ketika di Taipei, kenapa punya motor dan mobil itu tidak lagi penting, ya?" (hlm. 32)

Menurut dia, transportasi di Taipei sudah terintegrasi berdasarkan hasil diskusi dengan seorang profesor di ruangannya. Konsep lessmile dirancang agar wisatawan tidak bingung saat keluar dari stasiun, halte, karna semua jenis transportasi sudah tersedia di depan mata.

Tulisan Masjid Kecil Taipei mengisahkan rasa rindu pada Madura, yang tiap satu kilometer, akan ditemukan masjid-masjid di pinggir jalan. 

Wahyu awalnya heran, ketika melihat Masjid Agung Taipei yang ternyata tidak sebesar masjid agung di Indonesia. (hlm. 80).

Seperti dambaan banyak para pelajar yang studi di luar negeri. Wahyu juga berbagi cerita "berburu salju" (hlm. 90). Bab tiga, penulis menyoroti perihal Kampus dan Lingkungannya.

Jika pembaca ingin memahami tentang pola belajar dan iklim akademik, setidaknya buku ini menjadi semacam kado dan panduan agar pembaca bisa belajar dari kisah-kisah yang ditulis "based on experience" di buku ini.  

Makanan, Uang dan Bahasa merupakan tulisan yang penting dibaca. Pembaca akan paham perihal memilih makanan halal (hlm.155).

Sebagai anak perantauan, Wahyu merasakan sensai soal uang, makanan halal hingga soal bahasa. Tapi, serunya, penulis memahami trik mengatasi kendala itu.

"Nyawa itu masih ada di tempat yang sama seperti kemarin" cukup penting dibaca. Penulis merasakan kehilangan map yang di dalamnya, terasa ada nyawanya sendiri, yaitu Pasport, Transkip SI dan Ijazah, serta Dokumen Legalisir Teto. (hlm. 175)

Bayangkan, bagaimana rasanya kehilangan hal penting di negeri orang. Ia mencari berkas itu. Dalam kalut, Wahyu diingatkan jika orang Taiwan tidak biasa mengambil barang yang tertinggal. Hingga akhirnya, ia memutuskan untuk mencarinya di tempat tongkrongan, dan ternyata dokumen itu benar-benar tertinggal di sana (hlm. 179).

Wahyu mengabadikan momen belajar secara khusus di bab empat tentang Belajar. Tulisan Sama Saja, hanya Beda Lokasi menjabarkan, iklim pembelajaran di Taiwan. "I know it is very difficult, but this is very crutial for your future," ujar Prof. Yu-Qhian Zhu, saat meminta mahasiswa untuk terbiasa mempresentasikan dengan bahasa inggris.

Konon, Profesor Yu adalah dosen favorit dan bahasa inggris-nya sangat fasih. Wahyu menilai, jika belajar di Taiwan tidak jauh berbeda dengan Indonesia. Bedanya, pada kreatifitas dan penggunaan teknologi tempat guna, dan penataan ruangan yang menarik.

Intinya, kuliahnya sama, hanya beda lokasi. Di sana Indonesia, di sini Taiwan. Beda bahasa dan temannya saja. (hlm. 222). Buku ini merupakan cermin bagi para pelajar di tanah rantau. Tulisan berjudul, Bagaimana rasanya kuliah di Taiwan?" (hlm. 226).

Doa emak dan bapak akan menyentuh sisi emosi pembaca tentang  interaksi penulis dengan keluarga di Madura, melalui gadget. 

Meski terpisah dengan bentangan jarak nan jauh, interaksi dengan keluarga, termasuk  permintaan memudahkan lulus ujian. Hal-hal yang lazim diminta anak kepada orang tua.


Cover Buku yang ditulis Nurwahyu Alamsyah


Pada tulisan terakhir, Pulang, Penulis berbagi kisah mengenai perjalanan pulang ke Madura. (hlm. 304). 

Buku ini serasa kompas bagi anak muda. Gambaran tentang sisi menarik belajar di luar negeri. Dengan rentetan cerita seru dan pelik serta bentangan hikmah.

Pembaca akan menemukan belantara tulisan yang memikat dan inspiratif. Dengan menulis kisah di buku ini, Nurwahyu Alamsyah seperti memulangkan kenangan selama di Taiwan.

FENDI, content writer